KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT MUHAMMAD AL – GHAZALI

KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT

MUHAMMAD AL – GHAZALI

A.    MENGENAL AL – GHAZALI

Meletakkan Al – Ghazali sebagai topic pembicaraan, bukanlah hal yang baru bagi dunia ilmu pengetahuan.karena Al – Ghazali adalah sosok tokoh dimensional dalam arti intelektual. Hampir semua bahasa ilmu pengetahuan dalam macam ilmu pengetahuan pernah mencantumkan nama Al – ghazali.

Imam Al – Ghazali sebagai tokoh islam yang dikenal oleh dunia islam dan bukan islam, dikenal dengan karyanya yang banyak, ilmunya menjangkau berbagai bidang studi, dan berbagai karyanya telah dibaca, dikaji, dan dikomentari oleh ilmuan dari berbagai ilmu pengetahuan.

Di Indonesia, Al – Ghazali terkenal sebagai pakar ilmu filsafat dan tasawuf. Banyak yang memahami karyanya dengan pikiran sehat dan obyektif , adapula yang memahami tanpa dasar yang mantap sehingga mereka hanya mengejar kebahagiaan akhirat dan meninggalkan dunia serta ilmu pengetahuan dan semua yang berhubungan dengan dengan dunia ini.

Nama lengkap Al – Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad Ibn Muhammad Al – Ghazali. Beliau lahir di Ghazaleh suatu kota kecil di yang terletak di Thus, wilayah khurasan pada tahun 450, bertepatan dengan 1059 M.[1]jadi Gelar Al – Ghazali didapat dari Tempat lahir beliau Ghazaleh. Kemudian beliau wafat di Tabristan wilayah provinsi Tush pada tanggal 14 Jumadil Akhir 505 H bertepatan dengan 1 Desember 1111 M.

Berbagai perjalanan mencari ilmu pengetahuan telah di tempuh,sejak kanak – kanak Al – ghazali belajar fiqih kepada Ahmad Ibn Muhammad Al – Radzakani, kemudian beliau pergi ke JurJan berguru kepada Imam Abu Nushr Al– Ismail.

Setelah itu ia menetap lagi di Tush untuk mengulang – ulang pelajaran yang didapatnya. madrasah Nizamiyah Beliau Belajar ilmu – ilmu fqih, Ushul  fiqh dan Mantiq serta Tasawuf pada Abu Ali Al – Faramadi sampai beliau wafat.

Sebuah karangan menyebutkan bahwa Al – Ghazali pernah pindah ke Baghdad, btelah terkenal beliau telah terkenal dengan Ulama yang menguasai tiga bidang ilmu pengetahuan, yakni Ahli Fiqh, Ahli Tasawuf dan Ahli Ilmu Kalam.[2]

Beliau mempelajari kitab – kitab karangan Al – Farabi dan karangan Ibnu Sina. Metode ilmiahnya menetapkan pandangannya tentang filsafatnya, yang dipergunakan untuk membuktikan kesalahan berbagai mazhab dan untuk membatalkan paham – paham filsafat yang tidak sejalan dengan metode tasawufnya yang beliu yakini sebagai paham yang paling baik dibanding yang lain.

Pada tahun 488 H, Al – Ghazali meninggalkan Baghdad dan menetap di Damsik selama dua tahun. Lalu kemudian pindah kepalestina pada tahun 493 H, dan akhirnya menetap lagi di Tush dengan melakukan kegiatan merenung, membaca, menulis, dan berkonsentrasi pada tasawuf selam dalam hidupnya 10 tahun, dan kegiatannya antara lain beri’tikaf di m dan esjid Umawi,dan mesjid Baitul Makdis, menjalankan ibadah Haji dan brrjiarah ke makam Rasulullah di Madinah.

Dengan mengenal Al – Ghazali lewat sejarah  yang singkat di atas, dapat disimpulkan bahw sepanjang hidupnya selalu mengisi hidupnya dengan belajar, mengaja, dan menggali ilmu pengetahuan. Semua pemikiranya memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap ilmu pengetahuan, khususnya pendidikan islam. Kontribusinya terhadap ilmu pengetahuan telah membuka jendela dunia dan kita bias menjelajah dunia dengan ilmu pengetahuan.

B.     PEMIKIRAN AL – GHAZALI TENTANG PEDIDIKAN

  1. Latar Belakang Pemikiran

Membicarakan pemikiran seorang tokoh harus senantiasa dihubungkan dengan keadaan yang mengitarinya, sebab Al – ghazali adalah bagian integral dari sejarah pemikiran islam secara keseluruhan, dengan demikian situasi dan kondisi yang berkembang menentukan arah pemikirannya.[3]

Maka system pendidkan yang ditawarkan oleh Al – ghazali dipengaruhi oleh luasnya ilmu pengetahuan yang dikuasainya. Sehingga dujuluki dengan filosof yang ahli tasawuf ( Failasuf Al – Mutasawwifin ), Dua corak ilmu yang telah terpadu dalam dirinya itu kemudian turut  mempengaruhi formulasi komponen –komponen dalam system pendidikannya.

Beberapa pemikiran yang dapat diangkat dari Al – Ghazali

Ada beberapa pembahasan yang akan dikaji dalam pembahasan mengenai konsep pendidikan islam oleh Al – Ghazali, yakni :

  • Tujuan pendidikan
  • Kurikulum pendidikan
  • Pendidik
  • Peserta didik, dan
  • Metode dan media pembelajaran

Akan  dibahas satu persatu sesuai dengan urutan di atas.

Tujuan pendidikan menurut konsep Al – Ghazali

Tujuan pendidikan menurut Al – Ghazali harus  mengarah kepada Realisasi Tujuan keagamaan dan akhlak, dengan titik penekanannya kepada perolehan keutamaan dan taqarrub kepada Allah”. Dan bukan mencari kedudukan yang tinggi atau mendapatkan kemegahan dunia.[4] Dengan demikian konsep Al – Ghazali tentang pendidikan tidak melarang adanya manusia yang bergelut dengan urusan dunia, akan tetapi hal itu hendaknya menjadi jalan untuk lebih dekat dengan Allah. Bagi Al – ghazali orang yang berakal sehat adalah orang yang dapat menggunakan dunia untuk tujuan akhirat, sehingga derajatnya lebih tinggi disisi Allah dan lebih kebahagiaannya di akhirat. Rumusan tujuan pendidikan ini didasarkan pada Firman Allah, Q.s Al – Dzariyat : 56 ;

“ Tidaklah aku jadikan manusia dan jin kecuali beribadah kepadaku “.

Pandangan beliau tentang tujuan pendidikan itu mendapat pengaruh dari falsafat tasawufny,karena ilmu tasawuf memandang dunia ini bukan hal utama yang didewakan, tidak abadi dan tidak rusak, sedangkan maut dapat memutuskan kenikmatannya. Dunia ini tidak kekal, sedangkan akhirat adalah desa yang kekal dan maut senantiasa mengintai setiap manusia.[5]

  1. Kurikulum pendidikan

Pandangan Al – Ghazali tentang kurikulum dapat dilihat daripandangannya mengenai ilmu pengetahuan. [6]

Al – Ghazali menbagi ilmu pengetahuan kepada beberapa sudut pandang :

  1. Berdasarkan pembidangan ilmu dibagi menjadi dua bidang :
  2.  Ilmu Syari’at sebagai ilmu terpuji, terdiri atas :

a)      Ilmu Ushul ( ilmu pokok ), adalah ilmu Al- Qur’an , Sunnah Nabi, pendapat ulama dan ijma’.

b)      Ilmu furu’ ( cabang ),ilmu hal ihwal hati dan akhlah

c)      Ilmu pengantar ( mukaddimad ) : ilmu bahasa dan gramatika.

d)     Ilmu pelengkap seperti Qira’at

  1. Ilmu bukan syari’ah seperti :

Ilmu yang terpuji : ilmu kedokteran, ilmu berhitung, dan ilmu perusahaan.

  1. Berdasarkan objek, ilmu dibagi kepada tiga kelompok :
  2. Ilmu yang tercela secara mutlak, seperti sihir dan Nujum.
  3. Ilmu terpuji seperti ilmu Agama.
  4. Ilmu yang dalam kadar tertentu terpuji, seperti dari Filsafat natiralisme.
  5. Berdasarkan status hukum :
  6. Fardu ‘Ain
  7. Fardu kifayah
  1.  Pendidik

Al-Ghazali telah menguraikan secara mendalam tentang sifat – sifat yang harus dimiliki oleh seorang pendidik, yakni :[7]

  • Pendidik hendaklah memandang peserta didik sebagi anaknya sendiri, dengan demikian seorang pendidik akan mencintai, menyayangi dan memperlakukan mereka dengan member mereka yang terbaik.

Pengarahan kepada kasih sayang bertujuan untuk memperbaiki hubungan dengan peserta didik, dan mendorong mereka untuk mencintai pelajaran, guru, dan sekolah dengan tanpa berlaku kasar kepada mereka.

Bobot rasa kasih sayang akan dalam diri guru itu akan mampu merealisasikan prinsip – prinsip hubungan kemanusiaan dimana hal ini sangat dianjurkan oleh beliau dan sangat dihimbau oleh system pendidikan modern. Rasulullah pernah mencontohkan ini di depan para sahabat dengan mengatakan ;

Artinya : “ sesungyhnya saya dengan kamu itu seperti Bapak dan anknya “.

  • Pendidik hendaknya tidak mengharap imbalan atau pujian, tetapi hanya mengharapkan keridhaan Allah.

Dapar ditarik makna dari pernyataan ini bahwa sebenarnya Al-ghazali tidak melarang adanya semacam upah atau gaji, akan tetapi perlu digaris bawahi bahwa gaji tersebut tidak bias jadi niat utama kita mengajar.

Dalam sebuah pembahasan mengenai Al- Ghazali disebutkan bahwa “ cukuplah kiranya seorang prndidik mendapat fadhilah dan pengakuan atas kemampuannya menunjukkan orang kepada jaln kebenaran dan yang hak, kebaikan dan ilmu pengetahuannya, dan yang lebih utama lagi adalah pendidik menunjukkan jalan yang hak kepada orang lain.

  • Pendidik hendaknya menasehati peserta didik untuk tidak mencari kemegahan di dunia, akan tetapi menuntut ilmu demi untuk ilmu dan ini merupakan dorongan idealis untuk diikuti. Karena orang – oaring yang idelais yang dijadikan teladan adalah mereka yang memperhatikan yang hak dan memperhatikan yang baik serta melihat keindahan dari aspek keindahan itu sendiri. Nasehat seperti ini biasanya didapat di pesantren, nasehat para kiyai cukup menjadi kebutuhan bagi para santri.
  • Seoarang pendidik hendaklah menegur peserta didik yang bersalah dengan lemah lembut, kasih sayang, atau sebisa mungkin dengan suatu sindiran. Bukan dengan memarahi atau dengan mencela, sebab teguran yang berakhir dengan celaan dapat membuat peserta didik membangkang dan sengaja terus menerus bertingkah laku buruk.[8]
  • Seorang penddik hendaknya mendorong peserta didik untuk mencintai semua bidang studi yang diasuh pendidik – pendidik lain.
  • Memperhatikan bakat, minat murid, tingkat perkembangan akal dan pertumbuhan jasmaninya.

Dengan memperhatikn hal tersebut peserta didik dengan sangat mudah memilah materi yang akan diajar sesuai dengan perkembangan peserta didik, dengan demikian tidak ada ilmu yang disampaikan melampaui batas tingkat berfikir anak. Hal ini selaras dengan konsep Al- Qur’an 4:5 ;

Artinya : “ dan janganlah kamu serahkan kepada orang – orang yang belum sempurna Akalnya harta ( mereka yanga ada dalam kekuasaanmu ). Ayat diatas menyiratkan bahwa adanya seruan terhadap seorang pendidik agar berusaha menyeleksi materi yang akan diberikan sesuai dengan kondisi peserta didik tersebut.

  • Memperhatikan perbedaan – perbedaan individual anak.

Hendakemnya peserta didik memperhatikan peserta didik yang lemah dengan memberikanya pelajaran yang mudah dan jelas, bukan menghantuinya dengan hal – hal yang sulit dan dapat menghilangkan kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidik tidak mengabaikan yang lemah, seperti fenomena yang sudah sam kita hadapi bahwa seorang pendidik hanya akan mengajarkan yang pandai, sedangkan yang lambat proses berfikirnya dikatakan bodoh bukan diberi pembinaa yang khusus agar mereka merasa terperhatikan.

  • Hendaknya pendidik mengamalkan ilmu yang diajarkannya. Hal ini sejalan dengan firman Allah QS 2:44 yang artinya “ mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebajikan sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri”.

Al – Ghazali menegaskan bahwa kita harus merealisasikan ilmu yang telah kita ajarkan.

Melihat Fenomena padab saat sekarang bahwa kebanyakan pendidik hanya akan melepaskan tugas dan tanggung jawabnya tanpa berbuat dengan apa yang telah diajarkannya.

Al –Ghazali menghendaki pendidik menjadi contoh teladan bagi muridnya,jika kita amati sekarang bahwa system pendidikan tidak akan mengalami kerusakan di sekolah – sekolah, kecuali jika para guru tidak melakukan apa yang mereka katakan, sehingga peserta didik tidak mendapatkan seorang guru pun yang bisa jadi idola yang diteladani mereka.

Demikian semua sifat – sifat seorang pendidik menurut Al – Ghazali, pendidik yang beraklakul karimah, penuh kasih sayang dan tidak kalah pentingnya adalah guru yang menguasai ilmu pengetahuan akan memudahkan tercapainya tujuan pendidikan dan proses pembelajaran akan mudah dan berjalan dengan baik.

  1. Peserta didik

Menurut Al – Ghazali seorang peserta didik harus berusaha mensucikan jiwanya dari akhlak yang tercela. Syarat ini akan mendorong kepada terwujudnya syarat dan sifat lain sebagi seorang peserta didik.syarat – syarat tersebut adalah :[9]

  • Peserta didik harus memuliakan pendidik dan bersikap rendah hati. Hal ini menggambarkan bahwa kita didunia tidak akan berhasil tanpa bimbingan dan arahan dari pendidik.
  • Peserta didik harus menjalin hubungan yang baik dengan peserta didik yang lain. Dengan demikian akan terbangun sifat kerja sama antara peserta didik yang satu dengan yang lain.
  • Peserta didik harus menghindari belajar berbagai macam mazhab yang akan mengacaukan fikiran.
  • Peserta didik dituntut mempelajari semua bidang ilmu yang bermanfaat, jadi peserta didik akan menguasi berbagai bidang ilmu yang bermanfaat baginya.

Al – Ghzali mempunyai banyak aspek ilmu yang akan diajrakan kepada peserta didik,bukan saja aspek akhlak, akan tetapi juga aspek keimanan, jasmaniah, akliah dan sosial.[10] akan dibahas satu persatu tentang aspek yang akan diajarkan kepada peserta didik.

  • Pendidikan keimanan

Akidah tauhid haruslah diutamakan karena kan hadir secara sempurna dalam jiwa anak perasaan ketuhanan yang berperan sebgai pondasi awal dalam berbagai aspek kehidupannya.

Akan bisa ditarik kesimpulan bahwa dalam memberikan pelajaran kepada peserta didik harus di awali dengan pengenalan mereka dengan sang khalik, dengan demikian, apapun yang akan dipelajari setelahnya, peserta didik sudah mempunyai dasar yang akan menjadi landasan awal jika dia berbuat apa aja dalam hidupnya, dan akan timbul rasa takut ketika akan berbuat kesalahan. Al – Ghazali memandang bahwa taqlid ( ikut – ikutan dengan tidak berdasar sama sekali ) banyak mengandung kelemahan, dalam artian akan hilang apabila datang lawan yang menantang keyakinanya. Dengan demikian tersirat pesan bahwa seorang anak harus diteguhkan dalam jiwanya dan orang awam , sehingga imanya kuat, kokoh dan tidak tergoyahkan lagi. Adapun cara yang ditempuh adalah dengan lemah

Lembut, bukan dengan paksaan ataupun berdebat, sehingga ilmu yang diajarkan dengan senang dan mudah diterima anak.

  • Pendidikan akhlak

Akhlak adalh suatu bidang ilmu yang banyak mendapat perhatian Al – Ghazali, karena hal ini langsung berhunbungan dengan manusia di lapangan. kemudian usahanya tidak pernah berhenti untuk mengarahkan kehidupan manusia menjadi berakhlak, moral dan sebagai penggebrak kebiadaban. Al –Ghazali adalah tookh ilmu, akhlak yang bersendikan ajaran Relevansi atau wahyu, ia menyelidiki ini dengan berbagai metode, misalnya dengan pengamatan yang teliti, pengalaman yang mendalam, uji coba yang matang terhadap semua manusia dalam berbagai bidang dalam berbagai lapisan masyarakat.

Adapun sebagian pandangan Al – Ghazali tentang pendidikan akhlak susila  anak – anak adalah sebagai berikut :

Kesopanan dan kesederhanaan makan

Al – Ghazali memberi nasehat untuk mengajarkan kepada anak yang pada intinya adalah :

  • Tidak boleh makan dengan rakusnya
  • Menggunakan tangan kanan
  • Membaca bismillahirrahmanirrahim
  • Tidak boleh anak mendahuliu makan dari yang lebih tua.
  • Tidak boleh memandang terlampau tajam pada makanan.
  • Antara suapan yang satu dengan yang lain harus berjarak
  • Perlu dibiasakan makan roti tanpa lauk pauk, sehingga anak terbiasa makan tanpa lauk pauk.

Kesopanan dan kesederhanaan pakaian

Al – Ghazali menjelaskan dalam Ihya Ulumuddin sebagai berikut :

  • Janganlah laki – laki berpakaian perempuan dan juga juga sebaliknya perempuan berpakaian laki – laki.
  • Tidak boleh melakukan pemborosan.

Dengan demikian jelaslah bahwa kesenangan, kemewahna dan pemborosan pada anak mempunyai pengaruh negative terhadap perkembangan jiwanya nanti, misalnya kurang memiliki sifat sabar, tabah dan tahan menderita, jiwanya mudah goyah dan purus asa, kepribadiannya kurang kuat, sikap mentalnya rendah, buruk, dan sebagainya.

Kesopanan dan kedisiplinan

Dalam hal ini Al- Ghazali menjelaskan bahwa ada beberapa cara melatih disiplin anak, yakni : kesopanan dan kedisiplinan duduk, kesopanan dan kedisiplinan berludah, dan kesopanan dan kedisiplinan berbicara.

Pembinaan dan latiahan bagi anak untuk menjauhkan dari perbuatan yang tercela.

Al – ghazali menerangkan bahwa ada beberapa hal yang harus dihindari dala bentuk mengajarkan anak, yakni : anak diajarkan agar jangan suka bersumpah, jangan suka meminta, anak jangan suka membanggakan diri,

REFERENSI


[1] Ramayulis, Samsul nizar, Filsafat Pendidikan Islam : Telaah system pendidikan dan pemikiran para tokohnya ( Jakarta : Kalam Mulia, 2009), hal 271

[2] Ali Al –Jumbulati, Abdul Futuh At – Tuwaanisi, Perbandingan Pendidikan Islam,( Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1994 ), hal 131

[3] Bahri Ghazali, konsep Ilmu Menurut Al – Ghazali : suatu tinjauan Psikologik pedagogik, ( Jakarta : CV. Pedoman ilmu jaya, 1991 ), hal 25 – 26

[4] Op. Cit., h 273

[5] jumbulati

[6] ramayulis

[7] jumbulati

[8][8] ramayulis

[9] rayuliss

[10] Hamdani Ihsan, fuad hasan, Filsafat pendidikan Islam, ( Bandung : pustaka Setia, 2007 ), h.235

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s